Ada apa dengan memperlakukan orang lain dengan baik?

Jakarta, 18 juli 2016

Oleh-oleh setelah libur lebaran yang panjang ternyata tidak hanya lemak yang menumpuk di perut tetapi juga beragam kisah yang sebenarnya enggan untuk menulisnya. Tapi apalah daya kalau tidak ditulis rasanya gatal, pengin nonjok orang, eh.

Maafkanlah karena mengawali tulisan ini dengan emosi yang rasanya memang negatif. Tapi merujuk pada emosi dan pengendalian diri, aku selalu ingat betul kata aa gym (kalo tidak salah yaa), bahwa manusia akan diuji dengan satu hal saja, yaitu kelemahannya. Hal ini berarti orang-orang yang kelemahanya adalah mencintai seseorang dengan berlebihan, misal anaknya, mungkin ujianya akan berupa kehilangan anak. Atau mereka yang mencintai dunia secara berlebian, mungkin akan diuji dengan kemiskinan (walaupun sebagian orang merasa kemiskinan bukanlah ujian) atau mungkin kekayaan (terlalu kaya malah membuatnya terperosok dalam dosa). Sedangkan aku, yang dibesarkan dalam lingkungan penuh dengan teriakan, dan emosi yang meluap-luap, rasanya selalu diuji dengan kesabaran (tapi ini rasanya lhoo ya). Kenapa aku merasa ini adalah ujianku? Karena sampai saat ini aku belum lulus juga dari ujian kesabaran ini.

Mungkin sederhana saja bagi orang yang memang terlahir sabar, tapi bagiku, menjadi sabar seperti mencari jarum dalam jerami (syuusaaaaah), dan ujian kesabran itu berbentuk perlakuan orang lain kepadaku.

Aku ingin membagikan pengalaman tentang perlakuan buruk orang lain kepadaku. Mungkin kamu punya pengalaman yang lebih buruk sehingga pengalamanku ini tidak ada apa-apanya? Berarti anda sabar.

Jakarta konon kota yang kejam. Udaranya yang panas membuat orang-orangnya kasar dan keras. Semua serba main serobot, semua serba emosi dan tidak sabar. Aku akui kadang semua itu benar, apalagi bagi anda orang yang baper. Waktu pertama kali datang ke jakarta, yang aku harapkan adalah sambutan ramah dari orang-orang sini. Kenapa aku bisa berharap sedemikian besar? Karena orang-orang yang akan aku temui konon adalah muslimah yang baik-baik, dengan lingkungan islami, dan lulusan dari perguruan tinggi negri ternama di indonesia. Wah berarti sopan dan terdidik. Sebagian besar harapanku terkabul, tapi ada saja orang yang membuatku heran. Pertama kali datang orang itu sudah tidak ramah, dia sibuk dengan dunia sendiri. Tapi aku tidak masalah dengan hal itu, semua orang punya dunia sendiri. Yang paling aneh setelah beberapa lama aku di tempat ini dia sama sekali tidak menegurku atau jangan harap deh ditawarin minum. Lama-lama dengan tingkat kehausan yang semakin meningkat aku mencoba bertanya ke penghuni kosan yang lain. Dengan berpikiran bahwa aku juga membayar kosan ini, maka aku juga berhak akan minum. Sudah bukan tamu lagi.

Alhamdulillah penghuni lain itu baik dan mengatakan bahwa air galon yang ada di dispenser habis, jadi harus mengganti. Dan gantinya persis ada disampingnya. Tapi posisi dispenser ada di atas meja yang berarti harus mengangkat galon sangat tinggi. Untuk memastikan dan berbasa-basi ria, aku bertanya ke penghuni yang sok sibuk itu, “mba itu air galonnya habis kan?”. Dia sambil lalu menjawab “iya habis, kalau mau minum angkat aja ke dispenser sendiri.” Waalaah jleb dah, langsung baper jadinya. Aku kan penghuni baru yang benar-benar baru dateng dari bekasi, dengan posisi sangat haus, udah lama disitu, sampe inisiatif nanya air sendiri, malah disuruh ngangkat sendiri. Sableng kali tu orang. Semenjak itu, dia juga memang rada aneh, kalau ngomong berempat (sama aku) dia hanya akan ngajak ngobrol bertiga (tanpa aku). Aku itu angin lalu. Nawarin makanan Cuma bertiga. Menjadi satu-satunya orang yang tidak ditawarin makanan diantara semua orang itu hal yang sangat aneh, serasa dengar suara jangkrik. Tanpa menyebutkan almamater, dia itu hafidzah alquran, dengan lulusan universitas terkenal, pintar, dan ambisius. Sampai saat terakhir dia di kosan ini (akhirnya dia pergi), aku dan dia tidak pernah saling sapa. Aku memutuskan untuk tidak mengemis-ngemis ingin dekat dengan dia, dia juga mulai merasa kalau aku tidak pernah menganggap dia ada, seperti dia yang tidak pernah menganggap aku ada. Fix. Ketika semua orang mengaguminya, entah kenapa, aku tidak terpikir untuk berteman. Hanya menghargai sebagai sesama muslimah saja. Ketika semua orang mengatakan si A itu baik, tetapi si A tidak baik padamu, maka saat itulah aku mulai pusing. Something wrong with me? Or her?

Pengalaman selanjutnya ada di terminal Bekasi, sudah yang ke dua kalinya. Saat pertama adalah bulan Desember kemarin ketika mau mudik. Tak di sangka tak dinyana ternyata banyak sekali orang yang mau mudik, dan bis di tempat biasa habis. Maka aku memutuskan, dengan ditemani si dia untuk ke terminal Bekasi, siapa tau masih ada. Itu adalah tempat pertama yang kami tuju. Setelah mencari, kami menuju ke sebuah kios. Aku berdiri di luar kios dan si dia yang bertanya ke orang yang ada di dalam sana. Ada bapak-bapak umur sekitar 50 yang sedang melayani orang lain juga. Dari luar aku mendengar si dia bertanya, “pak, bis jurusan jawa masih ada?” dia menjawab, “masih, ini harganya 250 (kalo ga salah dulu).” Alhamdulillah aku senang mendengarnya walaupun tidak menyangka akan semahal itu. Di langganan bis biasanya paling hanya 150. Dan saat itu uangku tidak cukup. Rencananya aku mau pinjam uang si dia dulu kalau tidak cukup. Si dia menghampiriku dan bertanya, “Gimana mau ga?, aku jawab, “iya gapapa, tanya dulu tempat duduknya dimana.” Si dia langsung menemui si bapak itu, aku membuntut di belakangnya. Aku melihat ada beberapa kursi yang kosong tapi posisinya di belakang banget. Setelah melihat itu, aku menarik tangan si dia dan ngobrol sebentar, “Gimana nih harganya mahal banget, udah gitu duduknya di belakang.” Entah kenapa setelah ngomong itu, padahal si dia belum jawab pertanyaanku, mungkin bapak itu dengar lalu teriak dari dalam, “Udah ga ada bisnya, abis, g ada”. Aku dan si dia saling tatap, laaah tadi ada aku lihat sendiri ko malah bilang ga ada. Bapak itu teriak-teriak ga jelas. Setelah itu aku sendiri memutuskan untuk memakai trafel saja. Ternyata 200ribu sudah dapat mobil yang bagus waktu itu. Alhamdulillah.

Pengalaman terbaru ini ya pas lebaran kemarin. Rencananya aku dari bekasi mau ke jakarta jurusan tanah abang. Iseng-iseng aku dan si dia lagi mau nyobain naik bis saja. Soalnya kami mikirnya naik kereta bakal ngantri lama dan tidak dapat tempat duduk. Setelah sampai di terminal kami mencari bis tanah abang. Celingak celinguk kesana-kemari ternyata tidak ada. Waduh jangan-jangan tidak ada bisnya lagi. Ditambah lagi barang bawaan kami banyak sekali (khas mudik). Si dia memutuskan untuk bertanya ke tukang konter. Tukang itu berkata, “wah kalau bis tanah abang tidak di sini tapi di pertigaan jalan depan sana.” Wadduh aku dan si dia kaget, itu kan jalan yang kami masuk tadi. Ibarat dari depan terminal ke bagian paling belakang buat keluar bis, malah disuruh ke depan lagi. Akhirnya kami ngikutin dan muter, sampai ke seberang terminal. Disana ada ibu-ibu penjual rokok yang kami tanya juga. Ibu itu berkata, “bukan disini de, tapi di tempat sana keluar bis, tidak lewat sini”. Alamaaaak, tempat yang jual konter tadi? Berarti dari tadi kita dibohongin sama tukang konter tadi. Maka dengan hati dongkol dan tangan gemeteran karena bawaanya banyak, kami muter balik masuk ke terminal tempat keluar bis yang kami tinggalkan tadi.

Pas dijalan menuju tempat itu kami sempat ditanya sama tukang ojek di jalan, “mau kemana de?” aku malas menjawabnya, jadi si doi yang lebih sabar yang jawab. “ mau ke tanah abang pak, ini bis yang ke tanah abang masih lama ga yah pak? Si bapak-bapak itu menjawab, “wah kalau di terminal sini jarang, yang banyak itu di bulak kapal.” Aku diam saja. Orang itu terus-terusan mengulang perkataan yang sama “di bulak kapal, di bulak kapal”.  Mungkin karena aku tidak mendengarkan. Aku berpikir kenapa orang itu malah mengalihkan kami. Udah cape-cape ke terminal malah disuruh ke bulak kapal. Mungkin  dia ingin kami naik ojek dia. Ternyata benar kan, karena kami diam saja, setelah itu dia dan temanya malah menghentikan angkot dan setengah memaksa kami untuk naik. “Ini ke bulak kapal.” Wah ini orang sudah mulai maksa nih. Aku ajak saja si dia kabur. Setelah kami memutuskan untuk kabur, beberapa langkah saja orang-orang itu sudah teriak-teriak seperti menyumpahi kami dengan sumpah serapah. “Gimana sih, dikasih tau ga mau. Ini ke bulak kapal.” Oh God, kenapa dengan orang-orang ini. Kamipun menunggu di pintu keluar bis yang sebelumnya.

Setelah berdiri lama, aku lihat beberapa orang beli gorengan dan ngobrol dengan tukang gorengan tersebut, jadi aku tertarik buat nanya bis ke tukan gorengan itu. Aku beli saja gorengan tanpa bilang ke si doi. Aku berjalan sendiri dan bilang, “Bang berapaan gorengannya?” dia bilang dengan pelan kalau 5ribu dapat 6. Karena aku tidak dengar, terus aku ulangi lagi. Eh dia malah menjawab dengan nada ketus. Aku diambilkan kertas dan disuruh milih,”Milih aja dulu.” Pas mau milih, baru mau ambil kertasnya, aku sambil nanya, “Kalau bis ke tanah abang masih lama ga yah bang?” dia malah marah-marah, “Udah milih aja dulu.” Aku pikir orang ini tidak dengar atau salah mengerti, “Bukan bang, bis ke tanah abang masih lama ga?” dia malah tambah tinggi nadanya, “udah milih aja dulu.” Aku heran, apa salahnya jawab sambil aku milih. Aku mulai kesal juga dan jawab si abang itu, “Yaela bang saya nanya doang.” Dia malah nambah keras juga, “Iya milih dulu nanti juga dikasih tau.” Buseet dah ni orang. Kalau lagi sibuk mah oke lah ga bisa jawab, tapi ini pembelinya aku doang lho. Karena semakin emosi, aku bilang, “Yaudh lah bang ga jadi nanya. Nih gorenganya 6.” Ternyata jawaban yang dari tadi aku tunggu-tunggu dengan berdebat gorengan 5ribu sangat mencengangkan. Si abang bilang, “nanti juga ada”. Gubraaaak, lu ngotot kirain tau bisnya kapan datengnya, malah jawabanya cuma kaya gitu. Kami langsung kabur tanpa ampun dari terminal menyebalkan itu. Si doi juga udah mulai kesel ternyata, dan kami langsung pergi ke stasiun. Alhamdulillah tidak ada antrian di tempat tiket dan kami mendapatkan tempat duduk juga.

Tau gitu mending dari tadi ke stasiun aja. Tapi aku jadi dapat kata bijak dari si doi. “Ya kalau ga kaya gini ga akan dapat pelajaran kan. Jadi tahu kalau orang-orang terminal itu ternyata bar-bar kelewatan”. Iyaa deh.

Sampai di tanah abang sudah malam dan hujan gede. Jadi aku pulang sendirian. Si doi langsung ke Bekasi lagi. Iseng-iseng di jalan pulang, di gang kosan mau beli ayam goreng. Ternyata disitu juga mendapat perlakuan yang tidak enak. Penjualnya asem banget mukanya. Biasanya dilayanin sama si ibunya, eh si bapaknya lebih jutek ternyata. Dan harganya lebih mahal, dan tidak sesuai pesanan. Maka fix tidak akan beli disitu lagi.

Pengalaman yang paling anget adalah tadiii bangeet. Pas beli bakso di tempat terkenal. Rameee banget. Tadinya Cuma ada satu terus aku dateng, aku udh bilang dari awal “bang beli bakso urat.” Eh dia tuh sengaja banget ga dengerin. Mentang-mentang belinya Cuma satu. Tapi abis itu ada yang beli banyak dilayanin, nah aku dikacangin. Udah dah baper. Langsung kabur juga. Aku yang udah disitu lama, dan ngomong pesen berkali-kali tapi ga didengerin. Gondok rasanya, tapi belajar sabar. Ternyata malam itu rejekinya tukang sosis. Akhirnya makan malam pake sosis.

Kumpliiit dah pengalaman dua hari. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari hal-hal yang kurang menyenangkan. Tapi satu hal yang aku pertanyakan dan temukan sendiri jawabanya.

Apa salahnya bersikap baik dengan orang lain? Aku yang notabene orang umum, lebih memilih makan di tempat sederhana dengan pelayanan ramah, meskipun makananya biasa saja. Menyengkan bisa mendapatkan perlakuan baik dari orang lain. Membahagiakan orang lain kan? Mungkin orang-orang saat ini sudah sulit berbaik hati dengan orang lain. Mungkin saja. Ternyata ujian sabar kali inipun belum lulus. semoga selalu diberikan kesabaran dan kesadaran.

Iklan

Tentang buku yang baru saja selesai dibaca,

Setelah membaca dua novel Tere Liye yang berjudul Eliana dan Amelia, maka bisa aku simpulkan sendiri kalau genre novel yang seperti inilah yang membuatku bertahan membacanya. Jangan ditanya seberapa cepat aku bisa menyelesaikannya, karena jika aku benar-benar suka, maka satu hari saja sudah cukup untuk menghabiskanya, demi rasa dahaga yang terbayarkan.

Memang dari dulu kisah-kisah heroik dari tanah-tanah terpencil masih saja membuat jantungku berdetak dengan kencang. Masih sama seperti kisah pada buku Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi yaitu kisah seroang anak desa yang cerdas yang bisa menjelajahi setiap sudut-sudut terpencil di dunia. Dulu aku sangat takjub dengan cerita-cerita semacam itu, tapi sekarang, cerita seperti itu sudah banyak ditemukan di kehidupan nyata. Meskipun anak-anak yang melanglang buana itu tidak benar-benar dari daerah pedalaman seperti dari Belitung.

Cerita Tere Liye ini pun masih sama, yaitu tentang petualangan anak-anak kampung dalam mencari jati dirinya. Sehingga dalam suatu waktu yang tidak terduga, nasib membawa mereka menjadi orang-orang yang bermanfaat untuk sekeliling mereka.

Ada banyak pelajaran yang bisa aku petik dari jenis cerita seperti ini. Poin-poin pentingnya yaitu selalu saja ada keluarga yang teguh di belakang mereka semua serta adanya panutan-panutan orang-orang hebat di sekitar mereka.

Persamaan yang mencolok dari kedua cerita mereka adalah anak-anak hebat itu dikelilingi oleh guru-guru yang hebat. Guru-guru itulah yang melenakan mereka dalam mimpi-mimpi yang tinggi. Sedangkan perbedaan yang agak mecolok adalah si Ikal dalam buku Andrea Hirata dibesarkan bukan dengan contoh keluarga yang sempurna, dalam artian keluarga yang pendidikan tinggi atau mereka yang berpegang teguh dalam moral yang tinggi, melainkan dididik oleh ayah yang pekerja keras dan pendiam serta ibunya yang cerewet (ini hanya pendapat awam saja). Pedoman yang bisa diambil dari keluarga si Ikal ini adalah anak-anak bahkan sudah mengerti jika orang tua mereka telah bekerja keras demi mereka. Sehingga pemahaman akan susahnya dan usaha dalam merain mimpi telah terpupuk sejak dini.

Berbeda dengan cerita Anak-anak Mamak dari Bang Tere Liye adalah keempat anak tersebut dididik dalam keluarga yang nyaris sempurna. Ayah dan ibu yang pekerja keras dan memang lebih memahami soal pendidikan dan sodara-sodara yang lebih mendukung. Ada lebih banyak nilai moral akan sebuah keluarga ditonjolkan dalam kisah ini. Oleh sebab itu, meskipun cerita ini berkisah tentang serial anak-anak mamak, tetapi peran ayah dan ibulah yang sangat terangkat dalam kisah ini.

Persamaan aneh lain yang terdapat pada kedua karya tersebut adalah anak-anak yang telah berhasil tersebut terkadang adalah mereka anak-anak cerdas tetapi dengan sifat yang nakal. Istilah nakal disini bukan merujuk pada pengertian yang negatif tetapi nakal yang merujuk pada pengertian anak-anak yang jahil dan usil. Satu hal yang bisa diambil hikmah dari anak-anak “nakal” ini adalah mereka berani.

Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini seringkali ditemukan bahwa anak-anak yang pandai adalah mereka yang memakai kaca mata tebal, memebaca buku, nongkrong di perpustakaan, pendiam, dan penurut pada aturan dan norma-norma yang ada. Kebalikannya, anak-anak yang nakal adalah mereka yang terkadang tidak menonjol dalam bidang prestasi dan sering membuat ulah. Dan pola yang sudah terbentuk adalah anak-anak pandai yang menuruti aturan akan menjadi pegawai yang setia, sedangkan mereka yang nakal tetapi prestasinya tidak menonjol biasanya akan terjun dalam dunia pekerjaan yang membutuhkan otot. Mungkin sebab itu juga penulis ingin menghadirkan sesuatu yang lain, yaitu mereka yang nakal tetapi otak tetap bekerja, dan yang tidak kalah penting adalah mereka berani. Seperti kata salah satu muridku yang pada awalnya aku cap sebagai anak nakal juga yaitu “nakal boleh, gob**k jangan”. Itu adalah prinsip yang bisa aku hargai sejauh ini.

Sebagai cerita tambahan, awalnya aku sangat tidak suka dengan anak-anak nakal di kelasku itu. Kata-kata yang mereka yang maha dahsyat itu  seketika menjadikan hatiku luluh lantak terkena gelombang dahsyat tsunami (haha lebai).

Tapi kisah anak nakal yang pandai dan berani memang bukan cerita hayal belaka. Bayangkanlah akupun pernah punya teman yang pandai, dan ia sekarang sudah menjadi lulusan sebuah perguruan tinggi terbaik di indonesia, meskipun aku sekarang tidak tahu dimana ia sekarang, atau sudah menjadi apa (dia tidak mau menghubungiku, sombong sekali dia, puuiih). Tidak hanya dia, akupun punya teman yang pandai yang lainnya. Tapi sayang sungguh sayang, karena kemiskinan di daerah kami, maka ia hanya bekerja sebagai buruh pabrik saja sekarang. Mm mohon maaf, meskipun tidak ada pekerjaan yang bisa disandingkan dengan kata “saja/ hanya”. Paling tidak, dalam kedua kisah diatas, peran keluarga memang sangat penting di sana. (Alloh tidak tidur)

Masih ada dua buku lagi yang menungguku. Semoga menjadi pedoman yang baik dalam mendidik anak-anak nanti.

malam

Jakarta, 23 November 2015

Dalam kesendirian,

Aku menjadi saksi bergulirnya sang mentari,

Dari terang benderang sampai gelap merambat perlahan.

Dimana langit biru dan awan putih menghitam pelan-pelan.

Aku menyasikanya sendiri,

Gemerlap yang ternyalakan bagai kunang-kunang,

Oleh orang-orang yang bergidik menyambut pekat.

Panas terik yang menyerang gagah akhirnya menyerah tumbang

Tersapu perlahan semilir angin malam

Pohon-pohon yang menari-nari dalam kegelapan pun jadi saksi,

Bahwa orang-orang lari terbirit-birit, demi hitam dan pekat malam yang semakin mencekam

Bahwa kebisuan dan kesunyian adalah musuh terkejam

Bahwa dalam kematian, jarak dan ketidak tahuanlah yang membungkam kita dengan ketakutan.

 

Guru pun bisa takut

I am a teacher who feels afraid to teach.

I am sure no one was born with the absolute talent. Even those who have a talent must experience first time doing which is so killing. And here i am with my stupid doing. I think i can do anything as long as i really really try my best. If people can do what they want, then i must be able to being one of them. But, time passed by, and i was left behind with this fear. I am afraid of the students. I am afraid of being a teacher.

Aku mengajar bahasa inggris di salah satu bimbel di kota yang aku pilih saat ini. Mengajar adalah hal yang baru untukku. Aku sendiri bingung, kenapa dulu aku harus memilih jurusan ini sehingga saat ini aku merasa sangat lelah harus berurusan dengan anak-anak yang kadang sangat menyebalkan itu. Mengajar menjadi hal yang sangat menakutkan bagiku. Pola pikir yang awalnya sangat membuatku percaya diri bahwa aku bisa mendapatkan apapun dan menjadi apapun jika aku memang benar-benar mau salah besar. Tersasar di dunia mengajar benar-benar membuatku pesimis. Apakah mengajar membutuhkan bakat? Dan aku tertinggal di belakang karena aku benar-benar tidak mempunyai bakat.

Bahasa inggris bukan pelajaran yang penting bagi siswa-siswa disini. Tujuan utama mengajar di bimbel ini adalah siswa dapat mengerjakan soal dan mendapatkan nilai yang lebih baik di sekolahnya. Idealisme yang mengatakan belajar bahasa adalah untuk berbahasa perlahan luntur. Mereka bahkan tidak bisa mengeja kata “daughter” dengan baik. Yang penting adalah mereka tahu bahwa kata itu artinya anak perempuan. Oleh sebab itu juga bahasa inggris dianggap pelajaran yang gampang oleh mereka. Paling tidak, masih ada matematika yang mereka anggap jauh lebih penting dari bahasa inggris.

Suatu hari di kelas saya bertanya kepada anak-anak, “Lebih sulit mana, bahasa inggris atau matematika?” mereka menjawab serentak dengan lantang “matematikaaaa”. Aku lanjut ke pertanyaan berikutnya, “Berapa nilai paling besar dalam pelajaran matematika?” salah satu dari mereka menjawab 10.  Aku mengangguk-angguk, dan melancarkan pertanyaan yang selanjutnya “Berapa nilai tertinggi dalam bahasa inggris?” Anak tersebut menjawab 8. Pertanyaan terakhirku adalah “Kenapa kau tidak bisa mendapatkan nilai 10 untuk bahasa inggris padahal itu pelajaran yang lebih mudah dari matematika? Mereka diam saja.

Biar aku saja yang menjawabnya. Mungkin karena bahasa itu ilmu yang tidak pasti yang bahkan bisa berubah setiap saat sesuai si pembuat soal, walapun tetap saja ada batas-batas yang harus dipenuhi. Tidak sepenuhnya tidak pasti. Dan mereka pasti tidak selalu mendapatkan nilai 10 dalam matematika. Mungkin mereka beruntung mendapatkan satu nilai 10 dan mendapatkan 9 nilai dibawah 5. Sedangkan mereka tetap stabil mendapatkan angka 8 untuk pelajaran bahasa inggris.

Hal ini berbeda ketika aku mengajar di sebuah lembaga yang khusus mengajar bahasa inggris. Mereka datang dengan niat memang ingin belajar bahasa inggris sehingga kedudukan bahasa inggris penting disana. Dan sebagian besar mereka menganggap bahwa bahasa inggris sangat sulit. Aku senang mendengarkan. Bukan karena mereka tidak bisa dan aku senang, tapi sebagai guru aku mempunyai sesuatu yang lebih yang bisa aku berikan kepada mereka.

Tapi tentu belajar bahasa inggris di bimbel jauh lebih terfokus dari belajar bahasa inggris di sekolah. Di sekolah, dengan berbagai tujuan yang jarang tercapai, dan banyaknya siswa, bahasa inggris malah kadang tidak terlalu tersampaikan, baik secara teori maupun prakteknya. Buktinya, aku bahkan sudah lupa bagaimana pelajaran bahasa inggris saat di sekolah dulu.

Apa yang aku yakini adalah ilmu yang aku peroleh saat ini merupakan sebuah amanah yang harus aku bagikan. Ada kewajiban disini. Dan bahasa adalah pengantar, seperti sebuah kurir. Apa yang akan kita sampaikan bisa berbagai macam hal. Tentu yang bermuatan positif sehingga seuatu saat akan menjadi tabungan amal. Meskipun aku takut, bahwa yang aku sampaikan ini tidak benar sehingga malah akan memberatkan dosaku di akhirat.

Aku mencoba mengajar dengan berbagai metode. Di tempat yang sekarang, mengajar bahasa ingris difokuskan pada pola dan “drilling”. Siswa diberikan contoh bagaimana cara membuat kaliamat dengan berbagai situasi dan dengan berbagai macam contoh. Diharapkah siswa akan memperoleh lebih banyak kosa kata bahasa inggris dan lebih fleksibel dalam berbicara. Karena belajar kadang membosankan, aku biasanya selingi pembelajaran dengan video yang memang sesuai. Mereka senang karena bahasa inggris benar-benar menjadi pengantar video dari berbagai dunia. Terkadang siswa meminta permainan dalam bahasa inggris, tapi aku jarang memberikanya karena waktu yang tidak cukup dan materi yang kadang terlalu padat atau susah.

Karena hal inilah mereka kadang malah menjauhiku. Mungkin karena aku terlalu kaku. Sebagai guru aku kurang bisa membawa diri. Akupun menyadari dan mengakui hal tersebut. Aku tak malu, dan aku masih belajar saat ini. Karena dianggap terlalu serius, mereka jadi terlalu jauh. Aku tahu hal ini karena banyak siswa yang sikapnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat ketika bertemu guru lain. Langsung tersenyum cerah dan menyapa. Aku bingung, apakah mereka yang mempunyai muka dua atau aku yang keterlaluan. Pernah suatu saat aku mendengar mereka membicarakan guru tertentu. Mereka sangat senang dengan guru tersebut karena dia sangat lucu, dia memberikan berbagai permainan dan video. Aku menebak saja, pasti mereka pulang dengan keadaan sangat bahagia. Tapi ketika mereka membicarakan tentang pelajaran, mereka mengatakan tidak mengerti sama sekali. Aku juga pernah punya guru yang seperti itu waktu masih masa sekolah. Aku sendiri bingung.

Dengan berbagai macam sifat siswa, aku masih belum bisa menentukan akan menjadi guru yang seperti apa aku ini. Yang menyenangkan? Lucu? Atau yang diam dan cukup sampai disitu. Aku pernah mendapatkan angket siswa. Aku sudah bersiap dengan hasil yang menyakitkan. Kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk menyukai kita. Isinya ternyata tidak terlalu mengejutkan, sesuai prediksi. Aku terlalu pendiem, kaku, cuek, tapi ada satu hal juga yang sedikit menyennagkan hati, apa yang aku sampaikan kepada mereka sangat jelas sehingga mereka mengerti. Alhamdulillah, aku syukuri saja yang itu dulu.

Aku masih butuh banyak belajar. Bukan berarti aku berpasrah dengan kekakuanku ini. Aku mencoba beberapa kali mendekat kepada mereka. Yah hanya sekedarnya saja. Mereka juga tidak terlalu terbuka. Jadi aku juga memutuskan untuk menceritakan kepada teman-teman pengajar lain dan meminta masukan. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa “Meskipun kita sangat menyenangkan, tetap saja akan ada beberapa orang yang tidak suka, tidak usah dipedulikan.” Beberapa yang lain mengatakan untuk bisa sampai di tahap yang menyenangkan butuh jam terbang yang tinggi sehingga bahkan ketika kita masuk kelas, kelas itu sudah tunduk kepada kita. Tips yang sampai saat ini aku pegang adalah bahwa kelas tersebut adalah tanggungjawab kita, itu kelas kita. Buat aturan yang kira-kira akan menguntungkan dalam belajar sehingga mereka tidak akan melampaui batas.

Masukan itu sangat berguna buatku, aku mencoba menguasai kelas dulu sehingga proses belajar bisa lebih lancar. Dan apapun yang aku sampaikan semoga menjadi jalan keberkahan bagiku sendiri dan anak-anak.

Sampai saat ini aku masih bisa menghandle anak-anak sampe kelas 10 SMA, sisanya jangan ditanya. Bahkan aku sempat mogok atau nangis ketika disuruh mengajar anak kelas 12 dan mereka dengan terang-terangan menolakku. Aku belum siap dengan mereka. Tapi aku juga butuh pengalaman. Jadi mengajar benar-benar menjadi dilema. Semoga dengan berjalanya waktu, aku bisa lebih mengontrol diriku sendiri.

Teacher may be friendly, but they are not your friend.

Itu kata-kata dari dosenku yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang. Dan satu lagi, “Guru bahasa inggris harus attractive, percaya diri dengan bahasamu sendiri.” Terima kasih bu, di last minute kuliah, kata-kata itu masih saya pegang.

Tentang Masa Anak-anak

20 Februari 2016

Seringkali anak-anak meninggalkanku dalam keadaan tercenung begitu saja. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran mereka. Mereka tidak pernah benar-benar serius dalam belajar. Meskipun judulnya belajar di bimbel, tapi mereka terkadang terlalu meremehkan.

Aku sendiri tidak bisa mengingat kembali apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku saat aku di umur mereka. Dulu, waktu SMP, aku merasa sangat senang ketika mendapat kesempatan untuk try out soal ujian nasional gratis di salah satu bimbingan belajar di kota. Entah karena ini satu-satunya kesempatanku bisa belajar di bimbel atau mungkin karena waktu itu kita, aku dan teman-temanku ramai-ramai ke kota, atau karena hari itu aku mendapat kesempatan untuk bisa jalan-jalan ke kota, entahlah. Mungkin karena semua alasan itu.

Masih ingat dengan jelas waktu itu kami pulang dari try out tersebut ketika mulai maghrib. Di kota kecil kami, angkot sudah kembali ke rumahnya masing-masing kalau sore jadi tidak ada kendaraan lain disitu. Alhasil, kami berjalan menyusuri kota kebumen kembali ke desa masing-masing. Aku masih ingat kala itu sudah mulai petang dan udara mulai dingin. Berarti saat itu musim kemarau. Setelah beberapa meter kami berjalan, ternyata ada satu rombongan juga di belakang kami, beberapa anak laki-laki. Ternyata mereka juga tidak mendapatkan angkot seperti kami.

Kami berjalan sambil bercanda. Rasanya aku masih menyimpan sedikit perasaan gembira kala itu. Untungnya, setelah beberapa kilo meter berjalan, ada mobil terbuka yang mau menampung kami sampai ke kota kecamatan. Duduk di bak terbuka bagian belakang mobil itu ternyata juga sangat menyenangkan. Hanya saja, baru setengah jalan, kami melihat ada mobil dan motor yang bertabrakan. Ada salah satu korban yang tergeletak di pinggir jalan. Karena sudah mulai gelap dan sudah ramai, mobil yang kami tumpangi melanjutkan perjalanan saja. Tapi, aku sempat melihat korban yang tergeletak tersebut walaupun aku tidak melihat wajahnya.

Berita buruknya adalah ternyata korban yang tergeletak tersebut adalah satu satu teman kami. Tetangga kelas sebelah. Tapi aku mengenalnya dengan baik. Otaknya terbentur jalanan dengan keras sehingga bahkan sampai sekarang masih ada sisa-sisa akibat tabrakan tersebut. Berita buruk kedua, aku lupa menceritakan kalau saat kami berangkat ke kota, ada dua teman kami yang naik motor dan menabrak bis yang kami naiki. Segera kedua temen kami tersebut dibawa ke rumah sakit. Jadi ada dua kecelakaan dengan empat korban hari itu. Dan semuanya orang-orang yang kami kenal.

Mungkin bukan ide yang baik mengundang anak-anak smp untuk try out gratis di sebuah bimbel yang letaknya jauh di kota karena ketika mereka datang, bisa saja mereka naik sepeda motor yang notabene belum diperbolehkan untuk anak-anak seumuran kami waktu itu. Dan, jangan ditanya deh tentang bagaimana  anak-anak seumuran kami mengendarai motor. Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari saja kami masih labil, tapi juga dalam berkendara.

Ternyata, yang terjadi di bimbel tersebut pun sama sekali tidak berbekas di otakku. Kejadian-kejadian lain menutupinya. Tapi, hidup di kota jakarta yang sebesar ini, rasanya belajar di bimbel sudah merupakan suatu keharusan. Tidak hanya karena gengsi diantara orang tua, tetapi terkadang memang ada saja anak-anak yang benar-benar berkompetitive dan belajar dengan susah payah agar tidak menjadi pecundang di kelasnya.

Akupun pernah menjadi anak yang berprestasi dan menjadi pecundang sekaligus. Saat masuk smp, aku ada di peringkat 38 dari sekitar 320 anak yang di terima di sekolahku, dan itu sepertinya tanpa usaha. Dan masih ada ratusan anak yang ditolak di sekolah itu juga. Jadi aku ada di kelas awal. Saat kelas satu, aku mengerahkan seluruh tenagaku dalam belajar sehingga di awal guru-guru mulai mengenalku karena nilaiku bagus. Tapi saat masuk kelas 8 smp, aku mulai kenal yang namanya suka lawan jenis. Ketika teman-teman yang lain sudah mulai punya pacar, dan aku tertinggal sendiri kebelakang, aku mulai mencari perhatian. Alhasil, belajar tidak pernah, yang ada hanya berpikir keras bagaimana caranya aku bisa di kenal, bagaimana besok bisa main, dan kegiatan-kegiatan lain yang jauh dari belajar. Dan ternyata mencontek menjadi candu yang sangat menyenangkan saat itu karena kau tidak perlu bersusah payah belajar dan nilai yang tinggi manis rasanya.

Sampai tiba disaat aku mulai dibenci oleh para guru, dan kecewa dengan teman-temanku. Waktu itu yang aku rasakan juga berkali-kali kecewa. Mereka yang aku anggap teman ternyata menyalipku dari belakang. Ketika yang aku pikirkan hanya bermain, mereka sudah siap dengan proses-proses belajar. Mungkin mereka sadar lebih dulu dari aku. Dan aku menjadi pecundang sendirian di belakang. Ketika kau terus-terusan mencontek, itu berarti ada orang yang dengan berat hati memberikanmu contekan. Dan orang-orang cenderung mulai kecanduan untuk meminta sedangkan orang-orang lain cenderung mulai lelah untuk selalu memberi. Itu berarti aku tidak memberikan keuntungan apapun untuk mereka, maka hasilnya, aku dibuang. Menjadi pecundang dan menjadi orang buangan.

Karena merasa benci dengan keadaan tersebut, merasa dihianati, jadi aku mulai berpikir, ternyata menjadi orang yang “bisa/ mampu” itu akan menjadikan orang tersebut mempunyai kekuasaan. Mereka tidak perlu bersusah payah menyenangkan hati orang lain untuk mencari teman, karena teman akan datang sendirinya kepada mereka, walaupun itu berarti beberapa teman mereka bukan teman yang benar-benar tulus ingin berteman.

Mulai saat itulah aku ingin bisa mengerjakan semua soal-soal itu sendiri, aku mulai dari awal, dengan teman yang kiranya bisa membantuku. Alloh membayarnya, ternyata mendapat nilai tinggi dengan hasil sendiri merupakan kenikmatan yang lebih manis daripada nilai-nilai yang sebelumnya.

Sampai ketika aku SMA, aku juga bertemu dengan orang-orang yang dianggap pecundang. Waktu itu merekalah yang selalu meminta jawaban dariku. Dan benar saja, ketika pertama kali masuk kelas, aku dengan wajah yang sangat kaku ini sulit sekali mencari teman. Dan ketika nilai ulanganku mendapatkan hasil yang terbesar di kelas, tiba-tiba beberapa teman mendekatiku. Oh begini ternyata rasanya, mempunyai kekuasaan karena kemampuan, manis memang, tapi ternyata kau bisa dengan mudah melihat mana yang benar-benar ingin berteman denganmu, dan mana yang benar-benar penjilat saat itu. Dan rasanya aku juga benci setengah mati memberi mereka jawaban karena aku sudah belajar sangat keras, dan mereka mendapatkan nilai yang bahkan lebih besar dari nilaiku dengan sangat mudahnya. Aku merasa menjadi tumbal, dan beberapa teman yang melintas ternyata tersaring begitu saja karena aku tak benar-benar memberi mereka jawaban.

Mungkin begitulah alasan kenapa orang yang pintar menjadi lebih pintar. Karena ketika usaha kita yang susah payah mendapatkan hasil yang maksimal juga, rasanya sangat menyenangkan. Sedangkan alasan orang yang bodoh tetap menjadi bodoh adalah karena mereka dapat dengan mudah mendapatkan nilai yang bagus tanpa susah payah, jadi kenapa mereka harus bekerja keras? Begitu mungkin juga yang dialami oleh anak-anak didikku disini.

Itulah kenapa ingin sekali aku menegakkan kejujuran. Bukan karena aku ingin menjadi pahlawan, tapi karena aku ingin mereka merasakan rasa manis itu juga. Ketika usaha keras mereka terbayar dengan hasil yang lebih baik.

Dan jangan pernah kecewa atau merasa terhianati jika temanmu mendapatkan hasil yang bagus dengan cara yang curang. Karena kehidupan sekolah ketika SMP tidak berakhir di SMP, masih ada SMA. Kehidupan SMA bukan akhir, kehidupan kuliah bukan akhir, kehidupan kerja bukan akhir, dan akhir kehidupan inipun bukan akhir. Karena setiap perbuatan baik ataupun buruk akan menghasilkan hal-hal yang sesuai.

Dan berbanggalan menjadi baik. Berbangga karena dirimu merupakan penguasa bagi dirimu sendiri. Semoga mereka segera mengerti, bahwa hasil tidak akan pernah menghianati prosesnya. Menikmati masa sekolah dengan bersenang-senang tanpa harus melupakan belajar, karena penyesalan datang paling akhir.

Paradoks Lelaki

‪#‎Paradoks‬ ‪#‎Lelaki‬ (ahhaha)

Waktu itu kau diam-diam mendekatiku, merayuku, mengatakan akulah satu-satunya wanita yang paling cantik.
Aku sempat berpikir, “Benarkan itu? Tapi, si Marni kan lebih cantik dariku, apa ia sedang membohongiku.”
Namun kau jawab, “Tidak, aku bersungguh-sungguh.”
Wajahmu memang sangat meyakinkan. Aku mulai berpikir untuk mempercayaimu. Meskipun begitu, masih ada saja pikiran-pikiran nakal menyelinap halus, “Aku tidak cantik, aku bukan yang paling cantik. Marni, Siti, Ita, mereka semua lebih cantik.”
Ah tapi entahlah, Buat apa ia membohongiku, toh aku juga tidak begitu jelek.
Gara-gara itulah, sekarang, aku jadi banyak mau. Aku ingin dimanja, diberi semuanya, dipuji selamanya. Bagaikan Ratu, begitulah seharusnya. Ah salah siapa kau yang memujaku lebih dulu, kau yang bilang aku paling cantik.
Tetapi, kau malah berubah melawanku. Tidak mau menuruti mauku, menyepelekan aku begitu saja. “Aku tidak terima! Aku Ratu! aku tidak mau disepelekan seperti ini. Aku yang paling cantik! kau yang mengatakan itu dulu.”
Angin yang berlalupun tidak meninggalkan jejak. Serupa dengan engkau yang sudah menutup telinga akan kata-kataku.
Lalu, siapa lagi yang akan menganggapku paling cantik? Ah, siapa lagi?
Tak disangka, tak dinyana. Jelas-jelas aku mendengarnya, kau mengatakan “Tuminah, kau satu-satunya wanita yang paling cantik.”
Aku tidak terima.
Aku kan lebih cantik dari Tuminah!

*MPR

Si Musri

Fiksi # Kopi dan Beras #
Parjan melongok lagi gelas kosong di atas meja, melenguh kesal dan meninggalkan ruang makan. Berjalan mondar-mandir di ruang tamu dan kembali ke ruang makan. Untuk ketiga kalinya, ia menemukan gelas kosong itu masih saja bersih.
“Musriii, mana kopinya?” Parjan protes pada istrinya yang sedang ada di dapur.
orang yang dituju tidak kunjung menjawab. Parjan jadi semakin kesal.
“Musriiii!”
Teriakan Parjan kali ini ternyata mendapatkan respon dari arah dapur.
Dengan tidak kalah lantang, Musri menjawab, “Jual saja beras yang tinggal satu kilo itu untuk beli kopi, aku sama Dodit biar kelaparan. Bapak kembung sama kopi.”

*MPR

Tak mengapa, Bu.

‘Makan? Oh sudah ko bu.’
‘Iya bu berasnya habis.’
‘iya beli bu, nasi setengah 2rb disini.’
‘kenyang bu, kan banyak.’
‘Tahu disini mahal bu, itu yang ibu biasa beli satu plastik isi 6 kan 2rb, disini itu satu serebu bu.’
‘sama bu, tempe juga, cuma kaya kotak dadu kecil gitu bu 500, di warung bu lurah disitu kan 500 dapet tempe pake tepung, ga sekecil disini juga bu.’
‘biasanya sama tongkol bu, 3rb, atau telur dadar 2rb paling, tapi telornya rasa tepung pu, ga orisinil.’
‘ayam? kan dirumah situ banyak ayam bu, di kandang belakang rumah, bosen bu, ayam disini ga enak bu, kurang bumbu.’
‘Daging? maksud ibu daging sapi sama kambing? ga tega bu, kan kita tiap hari ke sawah, cape nyari rumput buat kambing sama sapi, jadi inget mereka bu, ga tega.’

*MPR

Tukiyem

Tukiyem gelisah tidak keruan menunggu sahabat terbaiknya di depan rumah. Setelah sekitar 15 menit, Santi, yang ditunggu-tunggu, baru muncul batang hidungnya.
‘Santi, kamu kemana saja sih, aku sudah lumutan nunggu kamu dari jam 6 tadi.’
‘Lho Tukiyem, kamu apa kabar? Kapan kamu datang? Ko sudah disini. Aku habis membeli beras tadi.’
‘Aku baru pulang subuh tadi. Ah terasa seabad menunggu kamu, lama sekali. Aku ingin kasih kamu kabar gembira. Bener kan kata-kataku dulu.’
Santi terdiam sesaat. Kabar gembira apa yang dibawa sahabat kecilnya ini, setelah satu tahun tidak bersua. Santi jadi semakin gelisah saja. Ada hal lain juga yang ingin ia kabarkan.
‘Ko diem San?’
‘Eh, iya Yem, aku juga punya kabar buat kamu.’
‘Aku? Kabar apa San?’
‘Yaudah kamu dulu, kabar gembiranya saja dulu.’
‘Bener nih?’
Santi mengangguk yakin.
‘Inget ga, dulu aku bilang kalau mas Parjo pasti bakal melamarku? Jadi, dulu, dia cuma lagi kesasar saja sama wanita-wanita yang lain.’
Santi terbengong mendengar kabar yang dibawa oleh Tukiyem.
‘Ko diem lagi sih?’
Santi jadi kaget.
‘Eh, iya Yem. Bohong ah kamu, kapan dia bilang begitu?’
‘Bener San, seminggu yang lalu. Bener kan kalo aku menunggu begini lama. Ada hasilnya.’
‘Kayaknya ga Yem, sia-sia, bener kataku dulu.’
‘Lho ko kamu jadi tidak mau kalah begitu. Sudah jelas dia bilang suka padaku. Kamu tidak percaya yah? Kamu kira aku bohong? Aku tidak mengada-ada San. Kamu tidak percaya?’
‘Tidak. Dia bukan kesasar, dia sudah sesat. Minggu depan dia mau menikah. Teman adiknya sudah bunting 3 bulan.’
——
‘Yem, ko kamu diem? Yem? Tukiyem?’